Banyumulek, 04/2/2026
dikutip dari RRI.CO.ID- Banyumulek, Lombok Barat, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra gerabah unggulan nasional yang mampu menembus pasar internasional. Di tengah fluktuasi ekonomi dan kenaikan harga bahan pokok, perajin gerabah di desa ini justru menghadapi lonjakan permintaan ekspor yang terus meningkat sepanjang satu tahun terakhir.
Produk gerabah Banyumulek dipasarkan dengan harga yang sangat variatif, mulai dari Rp5 ribu hingga mencapai Rp500 ribu per unit, tergantung ukuran, tingkat kerumitan desain, serta karakter artistik yang dihasilkan. Mayoritas produk tersebut dikirim ke pasar Eropa yang dikenal memiliki standar tinggi terhadap kualitas dan keunikan kerajinan tangan.
Salah satu perajin, Zaenudin, mengungkapkan peningkatan permintaan justru menjadi tantangan tersendiri bagi para pengrajin lokal. Ia menyebutkan bahwa kapasitas produksi tradisional mulai kewalahan menghadapi pesanan berskala besar.
“Pesanan gerabah dalam satu tahun terakhir ini terus bertambah sampai banyak perajin kewalahan untuk memproduksi karena kerajinan gerabah ini sifatnya eksklusif dan sebagian besar dipasarkan untuk ekspor,” kata Zaenudin saat ditemui RRI di Pasar Seni Gerabah Banyumulek, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Zaenudin, tantangan utama yang dihadapi saat ini bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada teknologi produksi. Ia menilai Banyumulek memiliki keunggulan unik yang sulit ditiru daerah lain.
“Bahan baku kami ini satu-satunya yang bercampur dengan tanah yang mengandung unsur emas, perak, dan tembaga sehingga kualitasnya berbeda,” ucapnya.
Namun, tingginya permintaan mendorong kebutuhan akan sistem produksi yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisional. Para perajin berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah daerah, baik berupa pendampingan teknologi maupun pembangunan fasilitas produksi berskala besar.
“Kalau orderan sudah masuk skala kontainer, kami butuh bimbingan teknologi atau bahkan pabrik gerabah supaya produksi massal bisa terpenuhi,” tutupnya.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku juga tidak dapat dihindari. Dampak kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok ikut memengaruhi biaya produksi. Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat diimbangi dengan penyesuaian harga jual.
Dalam satu tahun terakhir, harga gerabah di tingkat perajin mengalami kenaikan sekitar 20 persen. Sementara itu, di tingkat eksportir, kenaikan harga berkisar antara 30 hingga 40 persen. Penyesuaian ini dinilai masih sejalan dengan tingginya minat pasar luar negeri terhadap gerabah khas Banyumulek. (jAy/kAy)