Banyumulek 15 Januari 2026
Kutipan dari Lp.
Gerabah Banyumulek tak lagi sekadar tentang gentong atau kendi. Melainkan telah bertransformasi menjadi komoditas ekspor yang menjangkau hingga Selandia Baru dan daratan Eropa. Para perajin tidak lagi hanya berkutat pada bentuk tradisional. Sentuhan inovasi kini merambah ke dunia fantasi anak-anak. Gerabah berbentuk boneka Panda, kartun Doraemon, Hello Kitty, dan lainnya kini menjadi pemandangan biasa di galeri-galeri setempat.
"Dikirim ke Bali, Sumbawa, ada juga ke beberapa negara di Eropa sudah rutin menerima kiriman kami," ujar Arifin, salah satu pelaku usaha gerabah Banyumulek. Harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif dan bervariatif. Mulai dari pernak-pernik mungil seharga Rp 10 ribu hingga karya seni lebih besar yang dibanderol Rp 900 ribu. Semua tergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran produk. Arifin telah merintis jalannya sejak 2011 di Bali. Ia mengakui, selera pasar luar negeri sangat unik. Saat ini, tren painting atau pewarnaan gerabah menjadi komoditas paling laku.
“Paling berkembang saat ini adalah painting. Uniknya, warna-warna yang menurut kita mungkin kurang bagus, justru dianggap antik dan bernilai seni tinggi oleh pembeli mancanegara,” ungkap Arifin. Meski kunjungan wisatawan mengalami pasang surut, bisnis Arifin tetap stabil. Transaksi tidak hanya terjadi secara tatap muka.
"Meski wisatawan tidak datang langsung ke Indonesia, pesanan tetap berjalan dalam jumlah besar, nilainya bisa mencapai puluhan juta Rupiah," tambahnya.
Namun, di balik kegemilangan pasar ekspor, terselip kekhawatiran yang mendalam. Warisan budaya ini terancam kehilangan penerusnya. Banyak anak muda di Banyumulek yang mulai membelakangi tanah liat. Seorang perajin muda, Zidni Hidayat mengakui adanya degradasi minat di generasinya.
Copas:JaY/kY/LP