Banyumulek,20 Februari 2026
di kutip dari berita jatimnow.com - Lombok bukan sekadar sirkuit balap atau deretan pantai berpasir putih. Di sebuah sudut Kabupaten Lombok Barat, tepatnya di Desa Banyumulek, deru roda pemutar tanah liat menjadi melodi harian bagi sekitar 80% penduduknya.
Desa Banyumulek seluas 42,3 hektare itu bukan sekadar pemukiman, melainkan galeri hidup di mana tradisi turun-temurun menjelma menjadi komoditas global yang memikat turis mancanegara. Wisatawan mancanegara kini tak hanya datang untuk berfoto. Mereka duduk bersimpuh, mencoba teknik manual tanpa alat modern demi menciptakan karya sendiri.
Turis asing itupun menikmati sensasi merajut tanah liat menjadi kerajinan yang mereka gemari untuk dibawa pulang. Namun, di antara berbagai jenis kerajinan, ada satu yang menjadi daya tarik utama, yakni Kendhi Maling. Ini adalah gerabah unik yang diisi air dari lubang bawah, sebuah filosofi cerdik tentang cara maling masuk rumah yang selalu sukses mengundang decak kagum pengunjung. Keaslian inilah yang dijaga ketat oleh Pertamina Patra Niaga melalui pendampingan di Rumah BUMN Lombok Timur. Melalui UMK Academy, para pengrajin didorong untuk "Naik Kelas" lewat kurikulum Go Modern, Go Digital, hingga Go Global.
Pertamina memastikan bahwa warisan leluhur di Kampung Gerabah ini tak lekang dimakan zaman. Dengan penguatan inovasi desain dan perlindungan hak kekayaan intelektual, gerabah Banyumulek kini menjadi motor ekonomi kreatif sekaligus sarana diplomasi budaya di kancah internasional.
Keterlibatan mereka dalam ajang global di Lombok membuktikan bahwa tanah liat lokal, jika dipoles dengan pendampingan yang tepat, mampu menjadi energi yang menggerakkan ekonomi berkelanjutan demi masa depan yang lebih cerah.
semoga bermanfaat..^^-^^
#Artikel/jAy/kY